Permintaan pasar mulai terbentuk, dukungan pemerintah menguat, dan proses sertifikasi dipercepat

JAKARTA, 20 Juli 2026 /JavaRilis/ — SkyDrive Inc., pengembang pesawat listrik lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL) asal Jepang, memperkuat komitmennya untuk mengembangkan ekosistem mobilitas udara generasi baru di Indonesia. Bersama operator penerbangan nasional Whitesky Aviation, perusahaan menggelar kegiatan promosi di Cengkareng Heliport, Jakarta, pada 23–24 Juni 2026.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi SkyDrive untuk memperkenalkan teknologi eVTOL kepada pemangku kepentingan dari sektor pertambangan, perkebunan, kedirgantaraan, serta berbagai instansi pemerintah. Dalam acara itu, SkyDrive juga untuk pertama kalinya menampilkan replika pesawat SKYDRIVE (Model SD-05) dalam ukuran penuh di luar Jepang.

Menurut perusahaan, respons yang diterima menunjukkan minat pasar yang semakin nyata terhadap pemanfaatan eVTOL di Indonesia, baik untuk kebutuhan transportasi perkotaan maupun operasional di wilayah terpencil.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar bagi pengembangan mobilitas udara baru. Selain menghadapi tantangan kemacetan yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga sekitar Rp65 triliun per tahun di kawasan metropolitan Jakarta, Indonesia juga memiliki wilayah pertambangan dan perkebunan yang luas dengan kebutuhan mobilitas dan logistik yang masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur.

Di sejumlah daerah penghasil sumber daya alam, akses menuju lokasi operasional sering kali membutuhkan waktu tempuh yang panjang akibat kondisi jalan yang terbatas. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional, tetapi juga dapat menghambat penanganan kondisi darurat, termasuk evakuasi medis dan respons bencana.

Pada saat yang sama, sektor perkebunan skala besar membutuhkan sistem pemantauan yang lebih cepat dan efisien untuk mendukung pengawasan lahan, deteksi dini kebakaran, hingga mobilitas personel. Dalam konteks tersebut, eVTOL dinilai berpotensi menjadi alternatif yang lebih fleksibel dibandingkan moda transportasi konvensional.

Kemitraan Strategis Sejak 2025

SkyDrive dan Whitesky Aviation menandatangani kemitraan strategis pada Agustus 2025 untuk mempersiapkan pengoperasian layanan eVTOL di Indonesia.

Tahap awal kerja sama berfokus pada pengembangan layanan taksi udara di Jakarta, khususnya untuk menghubungkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan pusat kota. Keberadaan Cengkareng Heliport yang dikelola Whitesky dan berlokasi di kawasan bandara dinilai menjadi titik awal yang ideal untuk menguji kelayakan layanan mobilitas udara perkotaan di masa depan.

Seiring berjalannya diskusi, kedua perusahaan melihat peluang yang lebih luas. Kajian kemudian berkembang ke berbagai sektor industri, termasuk pertambangan dan perkebunan, yang dinilai dapat memperoleh manfaat signifikan dari penggunaan eVTOL.

Bagi industri pertambangan, eVTOL dapat dimanfaatkan untuk mengangkut personel ke lokasi operasi yang sulit dijangkau, sekaligus mendukung layanan medis darurat di area kerja. Sementara di sektor perkebunan, teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk patroli udara, pemantauan lahan, hingga pengawasan kebakaran pada area yang sangat luas.

Dibandingkan helikopter konvensional yang saat ini masih digunakan untuk sebagian kebutuhan tersebut, eVTOL menawarkan sejumlah keunggulan, antara lain biaya operasional yang lebih rendah, tingkat kebisingan yang lebih kecil, serta emisi yang lebih rendah.

Tiga Fokus Pemanfaatan di Indonesia

Dalam paparannya, SkyDrive dan Whitesky mengidentifikasi tiga area utama yang berpotensi menjadi pasar awal bagi layanan eVTOL di Indonesia.

Pertama, layanan taksi udara perkotaan di Jakarta dan wilayah sekitarnya untuk membantu mengurangi dampak kemacetan serta mempercepat konektivitas antara bandara, pusat bisnis, dan kawasan pengembangan baru.

Kedua, layanan mobilitas udara bagi industri pertambangan di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra, termasuk transportasi pekerja, pengiriman logistik ringan, serta layanan medis darurat.

Ketiga, pemanfaatan eVTOL di kawasan perkebunan berskala besar, seperti perkebunan kelapa sawit, tebu, dan tanaman industri, untuk mendukung kegiatan pengawasan, patroli, dan mitigasi kebakaran lahan.

Dukungan Pemerintah Menguat

Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, pelaku industri pertambangan, pengelola perkebunan, dan perwakilan sektor kedirgantaraan.

Muhammad Neil El Himam, Wakil Ketua Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi pada Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, menilai teknologi Advanced Air Mobility (AAM) dan eVTOL berpotensi mendorong lahirnya inovasi baru sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis teknologi tinggi di Indonesia.

Menurutnya, pengembangan industri ini memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan untuk membangun ekosistem yang mampu mendukung pengembangan teknologi serta penciptaan tenaga kerja dengan keahlian khusus.

Sementara itu, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman, menegaskan pemerintah terbuka terhadap pengembangan teknologi mobilitas udara generasi baru selama tetap memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Ia menyebut pemerintah siap mendukung pengembangan kerangka regulasi, termasuk penyediaan lingkungan uji coba dan percepatan pembahasan mekanisme sertifikasi yang diperlukan untuk mendukung operasional pesawat eVTOL di Indonesia.

Menuju Operasi Komersial

Melalui kegiatan ini, SkyDrive dan Whitesky berhasil menghimpun berbagai masukan dari calon pengguna mengenai kebutuhan operasional di lapangan, mulai dari transportasi personel dan logistik hingga layanan medis dan pengawasan lahan.

Data tersebut akan digunakan sebagai dasar berbagai studi kelayakan untuk mempersiapkan tahap komersialisasi.

Ke depan, kedua perusahaan berencana mempererat kerja sama dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat pengembangan infrastruktur, sistem operasional, serta proses sertifikasi yang dibutuhkan untuk menghadirkan layanan eVTOL komersial di Indonesia.

Tahap awal pengembangan akan difokuskan pada kawasan pertambangan di Kalimantan serta layanan mobilitas udara perkotaan di Jakarta dan sekitarnya, sebagai langkah menuju implementasi komersial yang ditargetkan mulai terwujud menjelang akhir dekade ini.