Sebanyak 99% responden ingin lebih banyak mengenal dunia kerja meski tingkat kepercayaan diri mereka terhadap kesiapan karier termasuk yang tertinggi di Asia Pasifik
JAKARTA, 1 September 2026/ JavaRilis — Anak muda Indonesia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam menghadapi dunia kerja, terutama dari sisi kreativitas, inisiatif, dan kemampuan beradaptasi. Namun, mereka juga merasa masih membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mengenal dan merasakan langsung dunia kerja.
Hal ini terungkap dalam studi terbaru bertajuk Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights. Studi ini merupakan kerja sama antara Federal Express Corporation (FedEx) dan Junior Achievement (JA), serta JA Institute.
Studi ini melibatkan lebih dari 4.200 anak muda berusia 15 hingga 22 tahun di 10 pasar Asia Pasifik, termasuk 552 responden dari Indonesia. Studi tersebut melihat seberapa siap generasi muda menghadapi karier di masa depan, dengan menyoroti kemampuan praktis dan kewirausahaan, pemahaman mengenai perdagangan global, serta kesiapan menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Di Indonesia, 99% responden berpandangan bahwa pendidikan perlu memberikan lebih banyak kesempatan untuk mengenal dunia kerja. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 97%.
Bagi responden Indonesia, kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis juga menjadi dua keahlian yang paling penting dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.
“Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin belajar teori, melainkan juga ingin mendapat kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam situasi bisnis yang nyata,” ujar Garrick Thompson, Managing Director, FedEx Indonesia.
Menurutnya, perkembangan AI dan perdagangan lintasnegara akan terus mengubah dunia kerja. Karena itu, generasi muda perlu memiliki keterampilan praktis yang tidak hanya diperoleh dari ruang kelas.
“Melalui kemitraan dengan Junior Achievement, FedEx bangga membantu anak muda Indonesia untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia bisnis. Kami berkomitmen mempersiapkan generasi berikutnya agar mampu bersaing dan sukses dalam ekonomi global,” katanya.
Percaya Diri, tetapi Ingin Lebih Banyak Pengalaman Praktis
Studi tersebut menunjukkan bahwa anak muda Indonesia ingin pendidikan formal tidak hanya membekali mereka dengan pengetahuan, tetapi juga kemampuan yang bisa langsung digunakan ketika memasuki dunia kerja.
Mereka juga menginginkan hubungan yang lebih erat antara apa yang dipelajari di ruang kelas dan apa yang akan dihadapi di tempat kerja.
Dalam sejumlah kemampuan yang bisa diterapkan di berbagai situasi, tingkat kepercayaan diri responden Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik.
Sebanyak 78% responden Indonesia percaya diri dalam menghasilkan ide atau solusi baru, dibandingkan 61% di Asia Pasifik.
Kemudian, 72% merasa percaya diri mengambil inisiatif untuk mencoba sesuatu yang baru tanpa harus diperintah atau diminta, dibandingkan 60% di tingkat kawasan.
Sebanyak 73% juga yakin dapat beradaptasi dengan cepat ketika rencana berubah, lebih tinggi dibandingkan 62% di Asia Pasifik.
Sementara itu, 69% merasa percaya diri bekerja secara mandiri dan mengambil keputusan tanpa membutuhkan banyak arahan. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan yang mencapai 59%.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki modal yang kuat dalam hal inisiatif dan kemampuan beradaptasi.
Meski demikian, mereka belum tentu nyaman ketika harus bekerja dalam situasi yang tidak memiliki struktur jelas. Hanya 43% responden Indonesia yang mengatakan nyaman bekerja tanpa rutinitas tetap. Di tingkat Asia Pasifik, angkanya mencapai 56%.
Pola Pikir Wirausaha Dinilai Penting, Apa Pun Pekerjaannya
Pandangan positif terhadap kewirausahaan juga terlihat dalam studi ini.
Sebanyak 95% anak muda Indonesia sepakat bahwa pola pikir kewirausahaan dapat membantu seseorang sukses dalam pekerjaan apa pun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 85%.
Menariknya, generasi muda Indonesia juga masih melihat pendidikan formal sebagai bagian penting dari persiapan karier.
Mereka memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81% bekal yang dibutuhkan agar sukses dalam karier di masa depan. Di Asia Pasifik, angkanya hanya 69%.
Artinya, keinginan mendapatkan lebih banyak pengalaman di dunia kerja bukan berarti mereka menganggap pendidikan formal tidak penting. Sebaliknya, mereka ingin pengalaman praktis menjadi pelengkap yang memperkuat apa yang sudah dipelajari di sekolah atau perguruan tinggi.
Siap Bekerja Bersama AI, Namun Belum Cukup Dibekali
Selain kemampuan kewirausahaan, studi ini juga menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia menyadari pentingnya memahami AI dan ekonomi global yang semakin terhubung.
Namun, ada kesenjangan antara apa yang mereka anggap penting dan apa yang mereka dapatkan dari pendidikan.
Sebanyak 94% responden menilai pemahaman mengenai cara bisnis berjalan di berbagai negara akan berperan penting dalam karier mereka di masa depan. Namun, hanya 69% yang mengatakan sekolah atau universitas sudah mengajarkan cara kerja perdagangan lintasnegara.
Hal serupa terlihat pada AI. Sebanyak 84% responden memperkirakan mereka akan bekerja dengan AI, namun hanya 70% yang merasa pendidikan telah membekali mereka dengan kemampuan menggunakan AI dalam lingkungan kerja nyata.
Generasi muda Indonesia juga lebih banyak menempatkan keterampilan digital dan teknologi sebagai prioritas dalam kurikulum. Proporsinya mencapai 18%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 12%.
Di seluruh Asia Pasifik, eksperimen secara mandiri menjadi cara paling banyak digunakan anak muda untuk belajar AI, dengan angka 42%. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin aktif mencari cara sendiri untuk mengembangkan kemampuan AI di luar pendidikan formal.
Pengalaman Nyata Jadi Kunci Kesiapan Masa Depan
Vivek Kumar, President and Chief Executive Officer JA Asia Pacific, mengatakan, kebutuhan anak muda terhadap pengalaman langsung di dunia kerja menjadi salah satu temuan paling penting dalam studi tersebut.
“Anak muda menginginkan lebih banyak kesempatan untuk mengenal dunia kerja dan memperoleh pengalaman praktis,” ujarnya.
Menurut Kumar, kebutuhan tersebut semakin penting karena tingkat pengangguran anak muda di Asia Pasifik saat ini hampir mencapai 14%, jauh lebih tinggi dari tingkat pengangguran orang dewasa. Di saat yang sama, kesenjangan dalam adopsi AI juga terus melebar.
“Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja sudah cukup untuk membuat anak muda sukses. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membangun keterampilan praktis, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami dunia kerja yang terus berubah,” katanya.
Tahun lalu, JA Asia Pacific membantu lebih dari 5 juta anak muda mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Program tersebut terlaksana berkat dukungan sekolah mitra, guru, relawan, serta mitra korporasi seperti FedEx.
“Kini, kita harus memastikan setiap anak muda memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang dan sukses dalam ekonomi masa depan,” ujar Kumar.
Studi tersebut juga menunjukkan beberapa area yang dapat memberikan dampak terbesar, antara lain membantu anak muda menggunakan AI secara bertanggung jawab, menghadapi tantangan bisnis yang tidak selalu memiliki struktur yang jelas, serta menerapkan pengetahuan dari ruang kelas dalam situasi nyata.
Program yang melibatkan industri dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal dinilai dapat membantu generasi muda membangun kemampuan mengambil keputusan, beradaptasi, serta memahami dunia bisnis. Kemampuan tersebut akan menjadi bekal penting bagi calon wirausahawan, pekerja, maupun pemimpin bisnis di masa depan.
Laporan lengkap Shaping Tomorrow’s Workforce: Asia Pacific Youth Insights tersedia untuk memberikan gambaran lebih jauh mengenai keterampilan yang dibutuhkan generasi muda Asia Pasifik agar siap menghadapi dunia kerja di masa depan.
Tentang Studi
Temuan dalam rilis ini berasal dari studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights yang ditugaskan oleh FedEx dan JA Asia Pacific, diterbitkan oleh JA Institute, dan dilakukan oleh Bolt Insight.
Survei kuantitatif secara daring berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dan melibatkan 4.219 anak muda berusia 15 hingga 22 tahun di 10 pasar Asia Pasifik, yaitu Tiongkok, Hong Kong SAR, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Republik Korea, Thailand, dan Vietnam.
Tentang Federal Express Corporation
Federal Express Corporation merupakan salah satu perusahaan transportasi ekspres terbesar di dunia. Perusahaan ini menyediakan layanan pengiriman cepat dan andal ke lebih dari 220 negara dan wilayah.
Federal Express Corporation mengandalkan jaringan udara dan darat global untuk mempercepat pengiriman barang yang membutuhkan kepastian waktu hingga tanggal dan jam tertentu.
Tentang JA Asia Pacific
Didirikan pada 1919 untuk menjembatani kesenjangan antara ruang kelas dan dunia kerja, JA Worldwide merupakan salah satu organisasi nonpemerintah yang berfokus pada generasi muda dan telah berdiri sejak lama, serta memiliki dampak terbesar di dunia.
Junior Achievement (JA) menghadirkan pembelajaran langsung dan imersif dalam berbagai bidang, mulai dari kesiapan kerja, kesehatan finansial, kewirausahaan, STEM, hingga keberlanjutan.
JA Worldwide telah dinominasikan untuk Nobel Perdamaian setiap tahun sejak 2022. Organisasi ini memberikan lebih dari 23 juta pengalaman belajar kepada pelajar setiap tahun di lebih dari 100 negara.
Dengan skala, pengalaman, dan komitmennya, JA Worldwide menjadi salah satu dari sedikit organisasi yang berfokus mempersiapkan generasi inovator, wirausahawan, dan pemimpin masa depan.
Pada 2025, JA Asia Pacific, yang merupakan anggota JA Worldwide, menjangkau lebih dari 5 juta pelajar di 14 pasar serta melibatkan lebih dari 66.000 guru dan relawan di kawasan Asia Pasifik.
Informasi lebih lanjut tersedia di www.jaasiapacific.org.
Tentang JA Institute
JA Institute merupakan unit riset, wawasan, dan thought leadership Junior Achievement (JA). Lembaga ini berfokus pada riset mengenai cara yang efektif dan efisien untuk menjalankan program pembelajaran, memperluas jangkauan JA, menghadirkan inovasi, serta mengukur efektivitas dan dampaknya.
JA Institute juga mengolah hasil riset menjadi thought leadership untuk memperkuat upaya advokasi generasi muda sekaligus mendorong JA berperan dalam percakapan global mengenai isu-isu yang berkaitan dengan generasi muda.